Jumat, 08 Oktober 2010

SUARA KEMANUSIAAN DALAM KOLONIALISME




- Judul Buku: Max Havelaar
- Penulis: Multatuli
- Penerbit: Narasi
- Cetakan: 2008
- Tebal: 396 Halaman

Penindasan menyisakan borok bagi mereka yang terjajah dan tercerabut haknya. Bagi "kaum penjajahnya", kisah itu ibarat sejarah kemenangan yang tak boleh diutak-atik lagi. Namun, Multatuli-lewat roman Max Havelaar-justru membuka tabir tersebut kepada dunia. Kemenangan bagi satu pihak adalah kehilangan habis-habisan bagi yang lain.
Max Havelaar adalah roman karya Multatuli-nama samaran Eduard Douwes Dekker-yang terbit pertama kali tahun 1860. Bisa dikatakan, inilah sastra yang pertama kali memuntahkan isi perut kolonialisme. Yang menarik lagi, roman ini ditulis seorang "kulit putih" yang justru mendapat hak privilese pada masa itu.   
Kita pun dibawa ke Hindia Belanda sekitar tahun 1800, tepatnya di wilayah Lebak, Banten. Kala itu, pribumi menjadi lapisan terendah struktur masyarakat.   
Mengapa? Secara hierarkis, Negara Hindia Belanda atau Hindia Timur Belanda dapat dibagi menjadi dua bagian berdasarkan hubungan Ibu Pertiwi dengan masyarakatnya. Satu bagian berisi suku bangsa, yang pangeran dan pangeran mudanya mengenal Belanda sebagai pemegang kekuasaan. Meski begitu, tetap saja pemerintahan langsung berada di tangan pemimpin pribumi.
Bagian lainnya adalah warga negara Belanda yang jumlahnya tentu sangat sedikit. Di manakah rakyat pribumi? Otomatis, kala itu orang Jawa adalah warga negara Belanda. Raja Belanda adalah raja orang Jawa. Keturunan dari pangeran dan bangsawan adalah pejabat berbangsa Belanda, demikian ditulis Multatuli.
Dalam nada satir, Multatuli menggambarkan jelas apa yang tengah terjadi, penindasan berstruktur. Raja-raja lokal yang menjadi pemimpin pun ternyata adalah bidak pemimpin di atasnya. Yang juga terbaca adalah ketercerabutan identitas. Tidak ada keindonesiaan di masa tersebut, kesamaan nasib karena ditindas belum melecut warga untuk bermimpi akan Indonesia yang merdeka. Hanya borok dan perih yang bisa dirasa.

Havelaar
Havelaar, Asisten Residen Divisi Banten Kidul (Banten Selatan) yang baru, membaca borok tersebut. Pria berusia 35 tahun ini digambarkan langsing dan cekatan. Dia tidak istimewa kalau dilihat sejenak, tetapi memendam ide-ide yang membakar. Multatuli menggambarkannya seperti "perahu kontradiksi", tajam seperti silet namun berhati lembut seperti seorang gadis.   
Havelaar memang orang Eropa, tetapi dia berbeda dengan koleganya yang lain. Masyarakat Eropa di Hindia Timur Belanda  pun sebenarnya terbagi dua saat itu, yakni orang Eropa asli dan mereka yang tidak lahir di Eropa tetapi menikmati hak yang sama dengan Eropa asli. Meskipun keduanya sama-sama terlahir sebagai hollander, pembedaan nyata terlihat. Mereka yang bukan Eropa asli disebut separuh kasta (liplap).
Bahkan, dalam tubuh "Eropa" sendiri friksi-friksi tersebut menimbulkan ketegangan. Satu contohnya adalah tidak mungkin kala itu orang Eropa akan bergaul dengan liplap.
Havelaar tentu Eropa asli, tetapi ia menerabas apa yang tidak boleh dilakukan oleh seorang Eropa pada masa itu. Ia turun langsung dan menyaksikan langsung kelaparan, ketertindasan yang telah digoreskan "kaumnya" pada negeri jutaan pulau.   
Dalam sebuah momen ketika ia dituduh telah melindungi warga oleh seorang Residen, Havelaar menjawab, "Residen, saya adalah Asisten Residen Lebak, saya telah berjanji untuk melindungi masyarakat dari pemerasan dan tirani...."   
Bisa dikatakan, Havelaar pun sebenarnya gamang dengan posisinya sebagai asisten residen. Dengan jabatannya, ia seharusnya bisa mendapat "lebih" banyak uang dengan memeras, seperti yang dilakukan teman-temannya. Namun, ia memilih tidak melakukan.     
Di sisi lain, Havelaar menanggung istri dan anaknya "si kecil Max" yang tak ingin dibiarkannya kesulitan. Dilema ekonomi dan kemanusiaan tersebut begitu nyata dialami Havelaar. Ia memilih kemanusiaannya.

Terjemahan
Membaca Max Havelaar setelah lebih dari 100 tahun diterbitkan tetap menyisakan perih yang sama. Jejak-jejak kolonialisme itu masih nyata di zaman ini. Momen satu abad kebangkitan nasional pun seakan menjadi pengingat bahwa kita pernah terjajah!   
Buku ini akan selalu abadi untuk disimak ketika kita ingin melihat "siapa kita" berabad-abad lalu. Kemudian, sudahkah kita beranjak dari masa satu abad lalu? Atau kita masih terjajah tetapi tak merasa diri dijajah?
Sastra yang satir ini harusnya  bisa menjadi bahan refleksi paling bening kalau saja terjemahannya pun mendukung. Saya kecewa membaca jalinan kalimat yang rumit dan terlalu banyak kata yang dicetak miring. Untuk beberapa kata mungkin artinya penegasan, tetapi ketika terlalu banyak, saya tidak menemukan makna lebihnya.
Belajar dari kurang mulusnya terjemahan, semoga saja ada versi cetak ulang Max Havelaar. Mungkin kita memang perlu membeli hak cipta yang menjamin setiap buku diterjemahkan dengan tepat dan benar. Pembaca berhak untuk itu. Kebenaran yang harusnya bisa mencerahkan bisa jadi menggelapkan karena kesalahan penyampaian bahasa.

Sumber:
Naskah: Kompas, 21 Mei 2008 
Ilustrasi: pda-id.org
SEPUTAR PEMANASAN GLOBAL



 
- Judul Buku: Global Warming for Beginner
- Penulis: Dadang Rusbiantoro
- Penerbit: O2
- Cetakan: 2008
- Tebal: xii + 115 Halaman

Meningkatnya permintaan pasar dunia terhadap jagung dan kedelai ternyata tak hanya memicu kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok, seperti yang telah kita alami beberapa waktu terakhir. Ada dampak tersembunyi yang tidak kalah membahayakan bagi kita seiring dengan meningkatnya kebutuhan biji-bijian itu, yakni memperparah pengaruh pemanasan global.   
Sebagian hal tersebut diulas dalam buku berjudul Global Warming for Beginner, Pengantar Komprehensif tentang Pemanasan Global. Dalam buku ini, ditunjukkan bahwa pemanfaatan tanaman jagung dan kedelai sebagai biofuel alias energi alternatif pengganti bahan bakar minyak memerlukan lahan luas sehingga memicu deforestasi hutan.   
Penjelasan dengan gaya bahasa sederhana yang dilakukan penulis sejak awal menjadi kunci yang memudahkan kita untuk memahami proses global warming dan betapa seriusnya ancaman itu. Seiring dengan peningkatan suhu rata-rata bumi atau pemanasan global itu, malapetaka pun menghampiri kita. Iklim dan cuaca berubah, permukaan air laut meningkat, dan keseimbangan ekosistem akan terganggu akibat pemanasan global.   
Fenomena tersebut akhirnya juga merugikan manusia. Secara langsung, peningkatan suhu akan mengakibatkan wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis meluas. Perubahan iklim dan kekacauan ekosistem juga akan bermuara pada pembuktian teori kondang Robert Malthus, yaitu manusia bertambah mengikuti deret ukur dan makanan bertambah mengikuti deret hitung. Persediaan makanan akhirnya tak cukup karena jumlah manusia yang kian banyak dan tindakan manusia yang merusak alam.     
Pengetahuan bahwa aktivitas manusia kerap kali menimbulkan kerusakan alam juga terdapat dalam isi buku ini. Ada cerita ironi tentang salah satu "paru-paru dunia", yaitu kebakaran hutan di Indonesia dan kehadiran Protokol Kyoto sebagai cikal bakal kesepakatan antarnegara mengenai pengurangan emisi karbon.     
Buku ini menjadi semakin lengkap karena ditutup dengan informasi mengenai langkah-langkah yang bisa kita lakukan untuk menghambat pemanasan global. Beberapa saran itu di antaranya sudah mulai populer di masyarakat, seperti membiasakan diri bersepeda ke kantor (bike to work) atau mengurangi pemakaian AC.

Sumber:
Naskah= digilib-ampl.net
Buku= Kompas, 21 Mei 2008
APA YANG KITA MAKAN?


- Judul Buku: Dangerous Junk Food
- Penulis: Reni Wulan Sari dkk
- Penerbit: O2
- Cetakan: 2008
- Tebal: Viii + 163 Halaman

Jika secara harfiah junk food diartikan sebagai makanan sampah atau rongsokan, maka jika manusia menyantapnya, manusia itu sendiri adalah sampah atau bisa menjadi rongsokan. Ini adalah logika dari pepatah we are what we eat atau kita adalah apa yang kita makan.   
Namun begitu, makanan apa saja yang tergolong dalam junk food terkadang tak diketahui. Atau justru orang cenderung memasukkan segala jenis makanan cepat saji (fast food) macam kentang goreng (french fries), burger, ayam goreng tepung, atau piza ke dalam kategori junk food.
Padahal, kategori junk food itu sendiri bisa lebih luas dari makanan cepat saji yang dijual di waralaba asing. Prinsipnya, segala sesuatu yang berlebihan atau tidak diperlukan tubuh adalah sampah bagi tubuh.
Tak hanya itu, zat-zat lain yang berbahaya bagi tubuh, seperti kandungan gula yang tinggi pada minuman bersoda, zat pewarna makanan, sodium, bahan pengawet, hingga formalin yang terkandung dalam tahu dan mi basah, perlahan menggerogoti tubuh manusia.
Menurut data Profil Kesehatan Indonesia tahun 2005, penyebab utama kematian di rumah sakit adalah stroke. Dari dua jenis stroke iskemik dan hemorragik-yang terbesar diderita penduduk Indonesia adalah stroke iskemik, sebesar 83 persen dari sekitar 500.000 penduduk yang diperkirakan terkena stroke. Stroke jenis ini diakibatkan aliran darah ke otak terhenti karena asterosklerosis, yaitu penumpukan kolesterol pada pembuluh darah.   
Karena itu, diperlukan kejelian dalam memilah apa saja yang masuk ke dalam tubuh. Fakta lain yang dikemukakan dalam buku ini, antara lain ibu hamil yang mengonsumsi junk food berpotensi melahirkan anak yang rakus, hiperaktif, hingga terkena penyakit jantung bawaan.

(Kompas, 21 Mei 2008)

"BADAI PASTI BERLALU?"





- Judul Buku: Satu Dekade Pasca-Krisis Indonesia: Badai Pasti Berlalu?
- Penulis: Sri Adiningsih, A Ika Rahutani, Ratih Pratiwi Anwar, R
Awang Susatya Wijaya, Ekoningtyas Margu Wardani
- Penerbit: Kanisius
- Cetakan: 2008
- Tebal: xvii + 181 Halaman

Krisis ekonomi yang melanda Asia tahun 1997 tidak pernah terbayangkan akan terjadi pada saat itu. Betapa tidak, kawasan Asia Timur sangat terkenal dengan negara-negara Macan Asianya, seperti Korea Selatan, Hongkong, Singapura, Taiwan, Malaysia, dan Indonesia. Kawasan ini berkembang pesat. Saat itu sering dianggap sebagai "keajaiban dunia" sehingga menjadi contoh bagi negara-negara sedang berkembang dalam membangun perekonomian.
Kilas balik peristiwa lebih dari 10 tahun lalu itu mengawali perjalanan isi buku berjudul Satu Dekade Pasca-Krisis Indonesia, Badai Pasti Berlalu?. Peristiwa mulai jatuhnya Indonesia dalam krisis moneter 1997 dan perjalanan krisis ekonomi setelahnya termasuk upaya untuk keluar dari krisis menjadi inti buku ini.
Apa yang menarik dari buku ini? Buku ini cukup gamblang memaparkan perjalanan ekonomi Indonesia 1997-2007 sekaligus memaparkan tantangan ekonomi ke depan. Termasuk gugatan atas sistem ekonomi liberal yang dianut negara ini, meskipun gugatan itu ditulis sekilas. Buku yang ditulis para peneliti Pusat Studi Asia Pasifik Universitas Gadjah Mada ini memang khas bergaya peneliti disertai data cukup lengkap berbentuk tabel dan grafik. Buku ini memotret dimensi ekonomi makro dan mikro. Ia menyajikan potret sektor moneter, riil, dan fiskal, serta tidak lupa menampilkan potret kondisi sosial masyarakat, seperti kemiskinan dan pengangguran.
Awalnya, pertumbuhan ekonomi berbasis sistem ekonomi liberal memang menunjukkan sisi positifnya, pengangguran menurun dan kesejahteraan masyarakat meningkat. Namun, akibat sistem itu pulalah negara ini terjun bebas dalam krisis. Krisis ekonomi ini memberi pelajaran berharga. Semakin liberalnya perekonomian menyimpan potensi kerawanan. Perkembangan ekonomi yang pesat tanpa dukungan perkembangan faktor sosial, budaya, politik, dan pendukung lainnya yang selaras bisa menimbulkan potensi destabilitas ekonomi yang besar. Bahkan juga dapat mengguncang stabilitas sosial dan politik.
Pemulihan ekonomi berangsur-angsur dilakukan melalui tiga tahap, penyelamatan, pemulihan, dan pengembangan. Penahapan dilakukan dengan mengombinasikan dengan program IMF. September 1997, untuk mengatasi krisis ekonomi, dikeluarkan lima program utama, yaitu stabilisasi rupiah, konsolidasi fiskal, pengurangan defisit transaksi berjalan, penguatan perbankan, dan penguatan korporasi.
Setelah 10 tahun krisis berjalan, ekonomi Indonesia belum bisa bangkit, tumbuh, dan berkembang seperti yang diharapkan. Meski pada kuartal IV 2004 ekonomi pernah tumbuh 7 persen, secara umum Indonesia masih sulit menembus pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen saat ini. Motor penggerak ekonomi utama seperti investasi dan industri masih berjalan lamban. Perkembangan perekonomian satu dekade menunjukkan kualitas pembangunan ekonomi makin memburuk. Potensi terjadinya krisis ulangan masih tetap ada. "Jangan sampai kita terperosok dalam lubang yang sama". Itulah peringatan yang
disampaikan buku ini. Sejarah memang menjadi pelajaran berharga.

Sumber:
Naskah= Kompas, 23 Apr 2008
Ilustrasi= koskowbuku.wordpress.com
MENJAJAL "HOME SCHOOLING"






- Judul Buku: Secangkir Kopi, Obrolan Seputar Home Schooling
- Penulis: Loy Kho
- Penerbit: Kanisius
- Cetakan: 2008
- Tebal: 262 Halaman

Meski baru dilegalkan Pemerintah Indonesia Mei 2007, home schooling atau pendidikan berbasis rumah sudah begitu populer, terutama sejak pola ini diterapkan oleh sejumlah artis kepada anak-anak mereka. Lewat model pendidikan ini, anak-anak tak perlu datang ke sekolah karena mereka bisa belajar sendiri di rumah dengan peran aktif orangtua. Home schooling juga bukan berarti memindahkan sekolah ke rumah, melainkan proses keluarga dalam mengarungi kehidupan. Setiap anggota keluarga bertindak sebagai siswa sekaligus guru.
Sebagai suatu model pendidikan yang relatif baru, dalam mengimplementasikan home schooling masih banyak masalah yang harus dipecahkan, terutama hal-hal bersifat teknis, seperti tentang penentuan kurikulum, ujian nasional, penjaminan mutu, dan sebagainya. Meski begitu, home schooling menjadi model pendidikan yang layak dicoba. Beberapa hasil studi menunjukkan, dibandingkan dengan mereka yang mengikuti pendidikan di sekolah umum, peserta didik home schooling memiliki prestasi akademik, sosial, dan emosional yang lebih baik.
Obrolan Seputar Home Schooling menyuguhkan cerita sebuah keluarga di Amerika Serikat yang menerapkan home schooling bagi ketiga anaknya. Dengan gaya bahasa bertutur, buku ini lebih mudah dipahami karena pembaca bisa membayangkan situasi yang dihadapi keluarga ini saat menerapkan home schooling.
Lewat buku ini, si penulis yang sekaligus menjadi pelaku bercerita soal kesulitannya pada tahap-tahap awal karena terjebak dalam materi-materi text book seperti di sekolah. Berkat dorongan dari teman-teman, ia pun mengerti bahwa pendidikan bukan sekadar text book tetapi pembangunan karakter si anak. Kesulitan lain adalah konsistensi menjalankan jadwal belajar karena si anak terlena dengan permainan, sementara orangtua dengan aktivitas rumah tangga.
Meski menghadapi sejumlah kendala, home schooling berhasil menciptakan anak-anak tangguh dengan jiwa yang lebih matang. Hal itu tidak saja dialami keluarga penulis, melainkan juga keluarga para sahabatnya.
Untuk memudahkan para pemula yang ingin menjajal home schooling, buku ini juga memberikan informasi seputar kurikulum, yakni kurikulum tradisional atau buku teks, kurikulum Charlotte Mason atau seni mendidik anak dengan lembut, dan kurikulum studi unit, yakni penekanan mata pelajaran tertentu secara lebih mendalam.

Sumber:
Naskah: Kompas, 23 April 2008
Ilustrasi: krismariana.wordpress.com
WAJAH KEKUASAAN... WAJAH KITA...




- Judul Buku: Tangan Besi: 100 Tiran Penguasa Dunia
- Penulis: Monsanto Luka
- Penerbit: Galangpress
- Cetakan: 2008
- Tebal: 291 Halaman


Adalah Alexander Agung (356-323 SM). Dua kitab agama, Quran dan  Bibel, mencatat tokoh ini sebagai raksasa bengis dan tiran dalam  mengembangkan kekuasaan. Quran menyebut Raja Macedonia ini sebagai  Monster Bertanduk Dua, yang akan menghancurkan bumi. Sedangkan Bibel  menyebut Alexander Agung adalah Monster Ketiga, yang melakukan  pembantaian berdarah umat manusia.
Rasanya ukuran moral mana lagi yang akan dikedepankan jika Quran dan Bibel sudah menempatkan seorang Alexander sebagai penguasa yang tiran. Kalau tirani dicatat agama sebagai tindakan yang amoral, maka sebenarnya Alexander adalah musuh agama. Kalau menjadi musuh agama, maka orang itu pasti berada dalam peradaban yang mengingkari konvensi-konvensi hakiki moralitas kehidupan. 
Sejak ayahnya-Raja Macedonia  Philip II-mengangkat Alexander menjadi wali pada tahun 340 SM mulai tampak perangai tirani itu. Ketika itu Alexander yang masih berusia 16 tahun, dengan cepat, bisa menumpas pemberontakan orang -orang Maedi  dan Trace. Kota yang kemudian dikuasai diganti nama Alexandropolis, sesuai dengan namanya. Dua tahun setelah peristiwa ini Alexander melakukan pembantaian pasukan elite dari Thebes.
Tirani itu makin tampak jelas ketika Alexander naik takhta di Macedonia pada tahun 336 SM dengan cara membunuh ayahnya, Philip II. Adik lain ibu yang dipersiapkan untuk mengganti Alexander juga dibunuh, termasuk ibu sang adik yang menjadi istri muda Philip juga dibantai.
Alexander juga menyerang Yunani dan membantai 6.000 penduduk, dan menjadikan 30.000 warga Yunani menjadi budak. Alexander juga membakar hidup-hidup ribuan orang yang terdiri dari ibu dan anak-anak di Kota Tyre, Macedonia Timur. Para lelaki di kota itu dibunuh dengan cara disalib, dan 3.000 lelaki dijual sebagai budak.
Buku berjudul Tangan Besi-100 Tiran Penguasa Dunia karya Monsanto Luka menceritakan cukup gamblang kisah Alexander ini. Sebagaimana judulnya, buku ini memuat polah tingkah 100 tokoh penguasa di dunia dalam mengelola pemerintahan.
Lebih tepat lagi, buku ini mencatat sepak terjang tokoh yang otoriter, kejam, sewenang-wenang, dan cenderung melanggar perikemanusiaan. Di samping memuat nama Alexander, buku itu mengisahkan kekuasaan Fidel Castro, Ayatollah Khomeini, Benito Mussolini, Adolf Hitler, termasuk di dalamnya sepak terjang Soekarno dan Soeharto dalam mengelola negara Indonesia.
Membaca buku itu, yang muncul dalam benak kemudian adalah bahwa setiap kekuasaan selalu diwarnai pertumpahan darah. Dan, itu berlaku dari zaman ke zaman,  sejak zaman sebelum masehi sampai peradaban global ini. Sepertinya sejarah bumi ini adalah darah itu sendiri. Darah yang selalu mengalir dari jasad-jasad yang lemah yang namanya rakyat itu sendiri.
Maka, benar apa yang tertulis di sampul belakang buku ini, bahwa kekuasaan selalu berdampak ganda. Negara kuat berjalan seiring dengan lemahnya posisi rakyat.
Seratus tokoh dalam buku itu adalah juga manusia. Ya, manusia seperti kita. Karena itu, kita pun bisa berlaku sama ketika kekuasaan itu merasuk. Karena itu, wajah-wajah kekuasaan itu adalah juga wajah-wajah kita.
Ya, wajah kita tidak hanya laki-laki, tetapi juga perempuan. Bacahlah dalam buku itu, kisah Kaisar Perempuan dari China, Wu Hou  (625-705). Perempuan yang dalam usia 13 tahun sudah menjadi selir kaisar pertama dinasti Tang, bernama T'ai Tsung, berburu kekuasaan dengan tipu daya cinta yang berbisa.
Setelah T'ai Tsung meninggal, perempuan ini mengalihkan cintanya kepada pewaris takhta bernama Kao Tsung dan menjadi istri kesayangan. Dalam posisi inilah, Wu Hou melakukan kekejaman dengan membunuh para perempuan selir kaisar lainnya. Bahkan dia bisa menyingkirkan Kao Tsung suami mudanya itu, dan naik takhta pada  tahun 655.
Saat memerintah itulah, Wu Hou  memengaruhi gerak pemerintahan dengan membunuh siapa saja  yang memprotes hubungan sedarahnya dengan sang kaisar yang juga suami mudanya itu. Kekejian banyak dilakukan selama menjalankan pemerintahannya.

Perenungan
Membaca buku ini, kita memang tidak sedang dihadapkan sebuah cermin kehidupan, melihat satu demi satu, dari kekejian yang satu ke kejian yang lain. Dengan buku itu, kita tidak hanya dibawa ke alam keheranan setelah menyaksikan, membaca tentang manusia dengan senjata kekuasaannya. 
Perenungan lebih jauh tentang buku ini paling tidak akan membawa kita kepada penyadaran diri, yang disebutkan orang Jawa sebagai "tengen ing budi"-selalu peka terhadap setiap perubahan kondisi kemanusiaan kita. Jika setiap individu manusia selalu punya kesadaran dirinya adalah pelayan kemanusiaan, maka kita tidak akan memperlakukan kekuasaan itu sebagai tombak yang haus darah.
Lagu Tamba Ati yang pertama kali dipopulerkan oleh Emha Ainun Nadjib sepenggal syairnya berbunyi ...Uwong soleh kumpulana...." (Orang baik ajaklah berteman....) Ungkapan itu bukan sekadar ajakan untuk masuk dalam lingkaran kebaikan. Lebih dari itu juga mengandung makna, terbentuknya komunitas-komunitas kecil yang selalu bergumul dengan nilai dan harkat kemanusiaan. Jika komunitas-komunitas kecil itu muncul di mana- mana, maka sesungguhnya telah terbentuk sebuah jaringan yang membendung munculnya kekuasaan yang adikuasa.     Kalau toh disebut ada kelemahan, buku ini tidak mencantumkan daftar referensi. Apa pun kategori buku ini, pertanggungjawaban kepada pembaca tetap diperlukan.

Sumber:
Sumber naskah: Kompas, 23 April 2008
Sumber ilustrasi: www.perpustakaan-ngawi.com
Eksistensi Tuhan di Dalam Manusia...


Tiap manusia umumnya tak memungkiri bahwa keberadaannya di dunia ini tak terlepas dari campur tangan Tuhan, Sang Pencipta yang membuatnya ada. Kemanusiaannya pun menjadi sempurna ketika hidup menyatu dengan alam, dunia di sekitarnya. Namun, seiring perjalanan hidupnya, manusia tak selamanya mampu merasakan kehadiran Tuhan. Eksistensi Tuhan pun terus dipertanyakan.

Judul Buku: Dunia, Manusia, dan Tuhan
Penulis: Prof Dr J Sudarminta dan Dr S P Lili Tjahjadi
Penerbit: Kanisius
Cetakan: Februari 2008
Tebal: 293 Halaman

Kesengsaraan. Itulah situasi yang tampaknya paling banyak membuat manusia mempertanyakan keberadaan Tuhan yang dalam ajaran berbagai agama begitu diyakini sebagai pengayom, pelindung, dan pengatur hidup manusia. Orang akan bertanya, di mana Tuhan ketika penderitaan menimpaku? ”Mengapa Tuhan tidak menolong ketika bencana datang?” Pertanyaan lebih kritis yang sering didiskusikan dalam pembahasan-pembahasan teologis adalah mengapa orang-orang baik harus mengalami kejahatan? Mengapa orang benar yang saleh harus tersiksa hidupnya?
Ambil contoh, mengapa Tuhan tidak menyelamatkan semua penumpang yang ada dalam pesawat Garuda yang mengalami kecelakaan hebat di Yogyakarta tahun lalu. Atau, penduduk di berbagai wilayah Jawa Timur mana yang bisa memilih untuk tidak terseret arus banjir atau tertimbun tanah longsor akhir tahun lalu. Semua orang bisa terkena musibah, tidak peduli latar belakang sosial atau bagaimana kehidupannya sehari-hari. Tindak kriminal seperti perampokan, pembunuhan, atau pemerkosaan tidak hanya  menimpa orang jahat saja. Para pejuang yang punya dedikasi bagi dunianya, sebut saja Mahatma Gandhi, atau bahkan Munir, tewas dibunuh. Balasan yang rasanya tak setimpal dengan apa yang sudah mereka berikan semasa hidup.
Pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Budhi Munawar Rachman berpendapat, Tuhan sama sekali tidak terlibat dalam segala kejadian buruk yang menimpa manusia. Terinspirasi dari berbagai materi perkuliahan yang didapatnya dari profesor filsafat dan ahli teologi Louis Leahy di STF Driyarkara, Budhi menyusun pendapatnya itu dalam tulisan Tuhan dan Masalah Penderitaan, yang terdapat dalam buku Dunia, Manusia, dan Tuhan yang diterbitkan oleh Penerbit Kanisius tahun 2008. Menurut Budhi, dalam kehidupannya manusia perlu menyadari bahwa hukum alam yang melingkupinya bukan hanya memberi kesan keteraturan, melainkan juga bisa menyebabkan malapetaka bagi manusia. Ia mencontohkan, hukum gravitasi juga bisa menyebabkan penduduk yang sedang berada di pantai terempas dan meninggal akibat tsunami, seperti yang terjadi di Aceh atau di pantai-pantai lain di Asia.
”Kita tidak bisa hidup tanpa gravitasi dan hukum-hukum alam lainnya, tetapi hidup dengan hukum alam berarti kita juga dikelilingi begitu banyak bahaya yang menyebabkan penderitaan,” kata Budhi dalam tulisannya.
Di sisi lain, manusia memiliki kebebasan untuk mengelola kehidupannya sendiri. Tuhan pun membebaskan manusia untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk, seperti yang diyakini Leahy sebagai kekhasan etika agama monoteistik. Hal tersebut menimbulkan dua konsekuensi, yaitu Tuhan tidak akan mencampuri kehidupan manusia agar manusia benar-benar memiliki kebebasan. Manusia pun bebas untuk memilih merusak dirinya sendiri. Sebagai makhluk yang merdeka secara moral, manusia juga bertanggung jawab atas kehidupan yang sudah diberikan kepadanya. Leahy juga percaya bahwa Tuhan selalu ada, bahkan dalam berbagai bencana alam yang menyengsarakan manusia. Tuhan prihatin dengan musibah alamiah tersebut, tetapi tidak bisa ikut campur. ”Ia sudah memberi kebebasan kepada hidup manusia dan memberikan hukum alam yang membuat hidup ini bisa teratur, manusia bisa terus belajar berbuat kebaikan, mengembangkan diri, dan merealisasi apa yang menjadi tujuan hidupnya,” tutur Budhi mengutip pendapat Leahy.
Seperti ungkapan yang diyakini banyak orang Jawa, Gusti ora sare. Tuhan tidak tidur ketika manusia menjalani semua kehidupannya. Persepsi manusialah justru yang menentukan pemaknaan keberadaan Tuhan. Psikologi rasa bersalah yang berkembang dewasa ini terkadang juga menambah penderitaan manusia. Sering kali manusia menyalahkan diri sendiri secara berlebihan atas segala musibah yang menimpanya. Tak jarang manusia menciptakan sendiri rasa bersalah, amarah, kecemburuan, iri hati, maupun dengki yang semakin menambah kesengsaraannya.
Satu hal yang menarik, keberadaan Tuhan sering kali tidak dipertanyakan ketika manusia berada dalam situasi yang membahagiakan. Tuhan acap kali tak masuk hitungan ketika manusia terlalu berfokus pada kemampuan diri sendiri. Kebahagiaan yang bahkan begitu mudah ditemukan ketika ungkapan syukur dipanjatkan pun akan senantiasa terlewat. Selain penderitaan manusia tak bersalah yang sering disebut sebagai ”masalah kejahatan” dalam Filsafat Ketuhanan, Dunia, Manusia, dan Tuhan juga menyertakan 11 esai lainnya yang ditulis khusus untuk mengapresiasi pemikiran Louis Leahy dan merayakan ulang tahunnya yang ke-80, 19 Agustus tahun lalu.
Berbagai hal, seperti hubungan antara lingkungan hidup dan teologi, sains dan agama, sesuatu yang tersembunyi di balik fenomena empirik dan intramundan dari jagat raya, filosofis manusia, pandangan keimanan manusia, dan pemikiran filsafat eksistensialisme dalam merefleksikan pengalaman akan Allah dituangkan 12 penulis dalam buku setebal 293 halaman ini.
Selain Budhi Munawar Rachman, penulis lain yang menyumbangkan karyanya adalah Martin Harun, Zainal Abidin Bagir, J Sudarminta, Karlina Supelli, M Sastrapratedja, SP Lili Tjahjadi, Franz Magnis Suseno, A Sunarko, Martin L Sinaga, Alex Lanur, dan Thomas Hidya Tjaja. Meski membicarakan berbagai pemikiran filsafat dalam bahasa akademis yang terkadang kurang familier bagi masyarakat awam, buku ini bisa menjadi media penambah wawasan bagi mereka yang ingin berkenalan dengan filsafat. Buku ini juga menarik karena mengajak pembaca memahami dirinya serta kemanusiaan manusia itu sendiri.

(Kompas, 7 Mei 2008)