Jumat, 08 Oktober 2010

GETIR PARA GUNDIK DI ZAMAN KOLONIAL






DATA BUKU
Judul: Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda
Penulis: Reggie Baay
Penerjemah: Siti Hertini Adiwoso
Penerbit: Komunitas Bambu
Cetakan: Jakarta, Juni 2010
Tebal: XX + 300 halaman
ISBN:  979-3731-78-8



Periode kolonialisasi Belanda di kepulauan nusantara menghadirkan beragam kisah pilu yang menggugah rasa kemanusiaan. Pada buku ini, Reggie Baay mengangkat salah satu kisah pilu yang jarang dibicarakan saat membahas periode kolonialisasi tersebut.
Buku setebal 300 halaman ini mengulik sejarah pergundikan di era kolonial. Dari buku ini, wajah kolonialisasi jelas tak hanya merampas hak ekonomi dan politik, tetapi juga merepresi manusia pada wilayah yang paling privat.
Baay menjabarkan kisah-kisah para perempuan Jawa yang menjadi nyai atau gundik laki-laki Belanda berikut konteks sosial politik pada era itu. Buku ini menjadi penting karena pembaca diajak melihat dampak kolonialisme dari sisi yang lain. Pergundikan tak hanya menimbulkan penderitaan bagi para perempuan pribumi yang dijadikan nyai, tetapi juga bagi anak-anak berdarah campuran yang mereka lahirkan.
Menurut Baay, para nyai muncul ketika para pegawai perusahaan dagang Belanda (VOC) tiba di nusantara sekitar tahun 1600. Di Hindia Belanda, mereka membutuhkan pembantu untuk mengurus rumah. Pada banyak kasus, pembantu yang biasanya adalah perempuan pribumi itu sekaligus menjadi teman tidur dan ibu dari anak-anak mereka.
Hubungan pergundikan biasanya terjalin dalam posisi tak seimbang. Di sana, ada keterpaksaan karena para gundik sangat tergantung pada tuannya. Tak jarang, mereka dicampakkan begitu saja bila tak diinginkan lagi. Bahkan, sering kali anak-anak hasil hubungan mereka direnggut untuk dibawa ke Belanda.     
Para gundik pun menjadi pendamping "sementara" sebelum para lelaki Eropa menemukan istri Eropa, yang dinilai jauh lebih layak.

Diskriminasi
Para nyai tak memiliki hak secara resmi. Jika ia disuruh pergi keluar rumah majikannya, mau tak mau ia harus pergi dengan tangan kosong. Kondisi itu berbeda jika ia sempat membuat perjanjian dengan tuan sekaligus "suaminya" itu.
Tanpa hak, seorang nyai tak mendapat perlindungan sama sekali dari perlakuan merugikan pasangannya yang majikannya itu. Padahal, kebanyakan lelaki Eropa yang merasa superior-karena kulit putihnya-membenarkan diri untuk berbuat kasar kepada penduduk pribumi, termasuk nyai-nya.
Dari semua diskriminasi, hal yang paling menyakitkan adalah bahwa para nyai tidak bisa menutut hak asuh atas anak-anaknya yang lahir dari pergundikan. Hal itu diatur tegas dalam undang-undang yang berlaku saat itu. Mereka dipaksa berpisah dengan anak-anaknya. Kondisi semacam ini, misalnya, juga digambarkan sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam karyanya tetralogi Buru.
Dari sisi Belanda, selaku pihak yang berkuasa pada waktu itu, fakta keberadaan para nyai dianggap aib, kecuali pada tangsi militer. Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jan Pieterszoon Coen pun mengeluarkan larangan bagi laki-laki Eropa untuk memelihara gundik. Hal ini, antara lain, juga dipengaruhi pandangan bahwa perempuan pribumi sangat jelek dan bodoh sehingga hanya akan menghasilkan anak-anak campuran yang tidak berkualitas.
Anak-anak campuran yang lahir dari pergundikan pun hidup dalam ketidakpastian. Mereka dianggap tidak "berdarah murni" sehingga kesulitan mendapatkan fasilitas seperti bapak Eropa mereka. Sebagian dari mereka juga dipisahkan dari ibu kandungnya sejak kecil sehingga tak memiliki kenangan sedikit pun tentang perempuan yang telah melahirkannya.
           
Obsesi pribadi
Obsesi Baay pada kisah para perempuan Jawa yang menjadi gundik laki-laki Belanda didorong sejarah keluarganya. Baay memiliki nenek yang tak pernah ia kenal. Nenek atau ibu dari ayahnya itu diduga seorang perempuan Jawa yang tinggal di sekitar Sragen, Jawa Tengah.   
Sejak kecil, ayahnya dipisahkan dengan perempuan yang melahirkannya sehingga tak punya memori apa pun tentangnya. Seperti ayahnya, ada banyak anak campuran yang tak mengenal ibu kandungnya dan dipaksa mengubur masa lalunya.   
Pada buku ini, Baay menampilkan profil sejumlah perempuan pribumi yang menjadi Nyai, lengkap dengan foto dan kisah mereka. Hanya sedikit nyai yang bisa hidup bahagia dengan suaminya. Kebanyakan nyai tak diketahui kabarnya karena dipaksa pergi dan berpisah dengan keluarga Eropa-nya.
Sedikit kekurangan dari buku ini barangkali terletak pada penyuntingan yang tidak cermat sehingga ada tahun yang tidak runtut. Selain itu, profil para nyai ditampilkan secara kaku dengan kualitas terjemahan yang kurang memuaskan.
Meski begitu, buku ini sangat layak dibaca siapa pun. Lewat buku ini, terlihat bahwa kisah mengenai pemerasan ekonomi dan perbudakan selalu menempatkan perempuan pada obyek. Tak hanya didiskriminasikan dalam hak bersuara, tetapi juga fisik: dipaksa berpisah dengan anak kandungnya.

Sumber:
Naskah: Kompas, 6 September 2010


MELONGOK PAJANG TAK HANYA DARI SISI SEJARAH




 

Data Buku
Judul : Pajang: Pergolakan Spiritual, Politik, dan Budaya
Penulis : Martin Moentadhim
Penerbit: Genta Pustaka
Cetakan : Agustus 2010
Tebal   : 269 halaman + xvi
ISBN    : 978-6029597-15-8


Sedikit literatur yang menjelaskan tentang Kerajaan Pajang. Padahal, kerajaan ini punya peran penting dalam penyebaran agama Islam, khususnya di pedalaman Jawa Tengah. Sayang, Pajang tertelan oleh kebesaran Demak, Majapahit, ataupun Mataram.        Meskipun demikian, potongan masa lalu dan juga kejayaan Pajang itu menarik minat Martin Moentadhim Sri Marthawienata yang lalu menulis buku Pajang, Pergolakan Spiritual, Politik, dan Budaya. Sebuah buku sejarah (lagi) kah yang dibuat?
Ternyata tak melulu menyoal tentang sejarah. Akan tetapi, inilah sisi menarik buku tersebut karena Martin tak mau terjebak menuliskan lagi sejarah Pajang seperti buku sejarah. Penulis merangkai tulisan dari sejumlah literatur dan data.   
Referensi andalannya ialah buku yang disusun dua ahli sejarah Jawa asal Belanda, yakni HJ de Graaf dan Pigeaud. Ada juga lima penulis tamu yang ulasannya diletakkan di halaman belakang buku, yakni Bambang Purwanto (Guru Besar Ilmu Sejarah UGM), Soedarmono (dosen sejarah Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta), Sudarno (Dekan Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS), arkeolog UGM Timbul Haryono, hingga sambutan Menko Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono.   
Dunia maya tak ketinggalan diselaminya, seperti dari wikipedia dan sejumlah laman budaya. Artikel sejumlah penulis ikut dikutip, misalnya Munawir Aziz dan Abdul Munir Mulkan. Potongan berita di koran yang menarik tak luput disematkan.
Semua itu dirangkai, dianalisis sendiri menjadi sebuah hipotesis, yang tujuan awalnya mengupas tentang Hadiwijaya yang merintis pemerintahan ala manunggaling kawula gusti. Hadiwijaya yang adalah pendiri dan raja Pajang ini tak lain adalah Jaka Tingkir. Untuk mengawali membaca buku ini, ada baiknya melongok sejenak  tulisan dari penulis tamu agar cukup paham alur cerita tentang kelahiran Pajang. Sebab Martin banyak memakai gaya bercerita untuk mengawali tulisan yang menuju ke hipotesisnya itu.   
Garis besarnya, Pajang mengganti zaman keemasan Majapahit dan Demak. Pajang sempat jaya. Buku ini cukup komplet memaparkan kelahiran Pajang yang diawali dari adanya Kadipaten Pengging.   
Jaka Tingkir, setelah Pengging dikuasai Demak, diangkat jadi adipati Pengging. Dari sini, Martin berkisah secara menarik. Misalnya, ia punya literatur yang menunjuk bahwa Jaka Tingkir berwajah tampan juga gigih berkelana dari dusun satu ke dusun lain untuk menggalang dukungan, utamanya kaum terpinggirkan yang saat itu disebut orang abangan (bukan Muslim yang saleh).   
Strategi perangnya adalah gerilya, memanfaatkan sisa-sisa laskar Majapahit. Kekuatan Pajang karena berbasis masyarakat pedesaan, jauh berbeda dari Demak yang berbasis maritim; sebuah hal menarik yang tak pernah terdeteksi di buku sejarah.
Sejumlah tokoh selain Jaka Tingkir coba diangkat Martin untuk menegaskan kejayaan Pajang. Misalnya, tentang Kanjeng Ratu Kalinyamat. Perempuan ini dua kali memimpin armada Pajang menyerang Portugal di Malaka. Sayang, dua-duanya gagal. Namun, setidaknya  Portugal jera dan tak lagi melirik Pulau Jawa.    Banyak informasi dan tidak semuanya saling memperkuat sudah disadari Martin. Misalnya, tentang penyebab kematian Jaka Tingkir ada beberapa versi. Tentang tahun, beberapa literatur juga tak sama, namun tak jadi soal karena sudah ada kompensasinya, yakni cerita "di belakang layar" tentang Pajang.   
Hanya saja, ada tulisan di buku ini yang melebar jika mengingat judulnya adalah "Pajang". Misalnya, buku ini banyak juga bercerita tentang Demak. Bahkan, ada bahasan tentang migrasi orang Jawa ke Jepang untuk mengenalkan budaya tanam padi.
Tiadanya gambar pendukung maupun ilustrasi menjadikan tampilan buku ini agak kering karena hanya teks melulu. Tampak juga pembahasan yang berulang. Walau demikian, keberanian Martin untuk merangkai informasi dari sana-sani membuat sejarah Pajang tak sekadar terpotret dari sisi sejarah dan kronologis.

Sumber:
Naskah: Kompas, 20 September 2010
Ilustrasi: distributorbukukita.com
LIKA-LIKU KEISTIMEWAAN YOGYAKARTA




Data Buku:
Judul: Catatan Perjalanan Keistimewaan Yogya
Penulis: Haryadi Baskoro dan Sudomo Sunaryo
Penerbit: Pustaka Pelajar
Cetakan: Februari 2010
Tebal: 201 halaman + xii
ISBN: 978-602-8479-33-2

Ciri keistimewaan Yogyakarta terletak pada kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono dan Paku Alam sebagai kepala daerah DIY atau gubernur dan wakil gubernur DIY. Itulah yang diyakini para pendukung propenetapan. Apakah memang begitu substansi keistimewaan DIY? Perdebatan tentang keistimewaan DIY hingga kini memang seperti tak pernah habis.
Perjalanan keistimewaan DIY dalam bingkai NKRI yang bisa dikatakan penuh liku menjadikannya tema menarik yang terus dibincangkan dari warung angkringan, jalanan, kampus, hingga lembaga negara. Satu lagi buku tentang keistimewaan Yogyakarta muncul memperkaya khasanah. 
Buku itu adalah Catatan Perjalanan Keistimewaan Yogya tulisan Haryadi Baskoro dan Sudomo Sunaryo. Buku setebal 201 halaman itu diterbitkan Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Haryadi adalah aktivis lembaga swadaya masyarakat dan dosen lepas, sedangkan Sudomo adalah penulis pidato Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono IX dan pensiunan Asisten I Sekwilda DIY.
Haryadi dan Sudomo mencoba memasukkan berbagai catatan sejarah untuk melengkapi lika-liku perjalanan keistimewaan DIY. Buku ini memasukkan sisi sejarah, hukum, politik, sampai memberikan saran solusi mengakhiri polemik keistimewaan DIY. Keduanya mengawali penulisan buku dari tinjauan sejarah, mulai dari Kerajaan Pajang, terbentuknya Mataram Islam, dan kemudian lahirnya Kasultanan Yogyakarta.
Keistimewaan DIY, menurut Haryadi dan Sudomo, berbeda dengan Aceh. Daerah Istimewa Aceh terbentuk melalui perjalanan panjang, antara lain karena rakyat yang terus-menerus bergejolak dan menuntut  otonomi khusus.
Adapun keistimewaan Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari keputusan Nagari Ngayogyakarta (Kasultanan dan Paku Alaman) untuk bergabung dalam NKRI. Ketika Jepang meninggalkan Indonesia, sebenarnya kesempatan bagi Yogyakarta untuk menjadi negara sendiri. Namun, kedua pemimpin Yogyakarta, Sultan HB IX dan Paku Alam VIII, memilih bergabung dalam NKRI.
Soekarno kemudian memberikan piagam kedudukan kepada HB IX dan PA VIII. Piagam kedudukan itu menjadi catatan sejarah penting tentang deal pemerintah RI dengan nagari Ngayogyakarta Hadiningrat. Melalui piagam itu, pemerintah RI mengakui kedaulatan Yogyakarta. Lalu, HB IX dan PA VIII mengeluarkan Amanat 5 September yang menyatakan mereka berdua bertanggung jawab langsung kepada Presiden.
Buku ini secara singkat mengungkapkan kontribusi Kasultanan dan Pakualaman, serta rakyatnya bagi NKRI yang baru berdiri, seperti memberi dukungan fasilitas dan finansial, sampai peran-peran kunci yang dimainkan HB IX dalam mempertahankan NKRI.

Berbagai ganjalan
Perjalanan keistimewaan DIY sejak awal tidak berjalan mulus. Ada upaya-upaya menggugurkan keistimewaan DIY. Pemerintah pusat sempat ingin membentuk Komisaris Tinggi yang menjadi wakil pusat di DIY. Namun, rencana itu ditolak HB IX dan PA VIII. Kehadiran komisaris tinggi bisa menjadi salah satu sebab kegagalan sebuah daerah istimewa, seperti yang dialami Surakarta. DIY juga hampir gugur karena tuntutan otonomi oleh DPR Kota Yogya.     Secara de jure, DIY baru ada setelah dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan DIY, tetapi secara de facto sudah ada sejak tahun 1945. Keistimewaan Yogya ditandai kepemimpinan Sultan dan Paku Alam sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah. Itu merupakan deal awal Yogyakarta dengan RI yang tertuang dalam piagam pengukuhan dan Amanat 5 September.     
Pada masa Orde Baru, DIY hendak dihapuskan seiring lahirnya UU Nomor 5 Tahun 1974 yang menekankan prinsip penyeragaman sistem pemerintah daerah meski akhirnya DIY tetap dijamin.      
Pandangan tentang demokrasi kini dianggap terlalu sempit, yang mendefinisikan demokrasi hanya melalui pemilihan langsung. Meski dipimpin raja, DIY justru sejak awal menerapkan demokratisasi modern dengan keberadaan lembaga legislatif (DPRD). Demokrasi di DIY bertolak dari prinsip takhta untuk rakyat.
Menurut buku ini, bila DIY ingin tetap dipertahankan, hendaknya tetap bertujuan menyejahterakan rakyat. Jika substansi DIY tetap memasukkan unsur kepemimpinan Sultan dan PA, raja dan kerabat keraton dituntut memiliki kapasitas dan kompetensi supaya benar-benar dapat menyejahterakan rakyat.     
Buku ini sangat jelas memihak penetapan Sultan dan PA sebagai gubernur dan wakil gubernur DIY, sebagai bagian dari keistimewaan DIY. Buku ini juga cukup banyak mengungkap perjalanan lika-liku sejarah keistimewaan Yogyakarta meskipun secara singkat. Banyaknya hal yang ingin dimasukkan  membuat pemaparan dalam bab dan subbab pada buku terkesan terlalu singkat dan padat. Namun, secara umum buku ini memberi pengetahuan yang diperlukan untuk memahami keistimewaan Yogyakarta. 

Sumber:
Naskah: Kompas, 4 Oktober 2010
SUARA KEMANUSIAAN DALAM KOLONIALISME




- Judul Buku: Max Havelaar
- Penulis: Multatuli
- Penerbit: Narasi
- Cetakan: 2008
- Tebal: 396 Halaman

Penindasan menyisakan borok bagi mereka yang terjajah dan tercerabut haknya. Bagi "kaum penjajahnya", kisah itu ibarat sejarah kemenangan yang tak boleh diutak-atik lagi. Namun, Multatuli-lewat roman Max Havelaar-justru membuka tabir tersebut kepada dunia. Kemenangan bagi satu pihak adalah kehilangan habis-habisan bagi yang lain.
Max Havelaar adalah roman karya Multatuli-nama samaran Eduard Douwes Dekker-yang terbit pertama kali tahun 1860. Bisa dikatakan, inilah sastra yang pertama kali memuntahkan isi perut kolonialisme. Yang menarik lagi, roman ini ditulis seorang "kulit putih" yang justru mendapat hak privilese pada masa itu.   
Kita pun dibawa ke Hindia Belanda sekitar tahun 1800, tepatnya di wilayah Lebak, Banten. Kala itu, pribumi menjadi lapisan terendah struktur masyarakat.   
Mengapa? Secara hierarkis, Negara Hindia Belanda atau Hindia Timur Belanda dapat dibagi menjadi dua bagian berdasarkan hubungan Ibu Pertiwi dengan masyarakatnya. Satu bagian berisi suku bangsa, yang pangeran dan pangeran mudanya mengenal Belanda sebagai pemegang kekuasaan. Meski begitu, tetap saja pemerintahan langsung berada di tangan pemimpin pribumi.
Bagian lainnya adalah warga negara Belanda yang jumlahnya tentu sangat sedikit. Di manakah rakyat pribumi? Otomatis, kala itu orang Jawa adalah warga negara Belanda. Raja Belanda adalah raja orang Jawa. Keturunan dari pangeran dan bangsawan adalah pejabat berbangsa Belanda, demikian ditulis Multatuli.
Dalam nada satir, Multatuli menggambarkan jelas apa yang tengah terjadi, penindasan berstruktur. Raja-raja lokal yang menjadi pemimpin pun ternyata adalah bidak pemimpin di atasnya. Yang juga terbaca adalah ketercerabutan identitas. Tidak ada keindonesiaan di masa tersebut, kesamaan nasib karena ditindas belum melecut warga untuk bermimpi akan Indonesia yang merdeka. Hanya borok dan perih yang bisa dirasa.

Havelaar
Havelaar, Asisten Residen Divisi Banten Kidul (Banten Selatan) yang baru, membaca borok tersebut. Pria berusia 35 tahun ini digambarkan langsing dan cekatan. Dia tidak istimewa kalau dilihat sejenak, tetapi memendam ide-ide yang membakar. Multatuli menggambarkannya seperti "perahu kontradiksi", tajam seperti silet namun berhati lembut seperti seorang gadis.   
Havelaar memang orang Eropa, tetapi dia berbeda dengan koleganya yang lain. Masyarakat Eropa di Hindia Timur Belanda  pun sebenarnya terbagi dua saat itu, yakni orang Eropa asli dan mereka yang tidak lahir di Eropa tetapi menikmati hak yang sama dengan Eropa asli. Meskipun keduanya sama-sama terlahir sebagai hollander, pembedaan nyata terlihat. Mereka yang bukan Eropa asli disebut separuh kasta (liplap).
Bahkan, dalam tubuh "Eropa" sendiri friksi-friksi tersebut menimbulkan ketegangan. Satu contohnya adalah tidak mungkin kala itu orang Eropa akan bergaul dengan liplap.
Havelaar tentu Eropa asli, tetapi ia menerabas apa yang tidak boleh dilakukan oleh seorang Eropa pada masa itu. Ia turun langsung dan menyaksikan langsung kelaparan, ketertindasan yang telah digoreskan "kaumnya" pada negeri jutaan pulau.   
Dalam sebuah momen ketika ia dituduh telah melindungi warga oleh seorang Residen, Havelaar menjawab, "Residen, saya adalah Asisten Residen Lebak, saya telah berjanji untuk melindungi masyarakat dari pemerasan dan tirani...."   
Bisa dikatakan, Havelaar pun sebenarnya gamang dengan posisinya sebagai asisten residen. Dengan jabatannya, ia seharusnya bisa mendapat "lebih" banyak uang dengan memeras, seperti yang dilakukan teman-temannya. Namun, ia memilih tidak melakukan.     
Di sisi lain, Havelaar menanggung istri dan anaknya "si kecil Max" yang tak ingin dibiarkannya kesulitan. Dilema ekonomi dan kemanusiaan tersebut begitu nyata dialami Havelaar. Ia memilih kemanusiaannya.

Terjemahan
Membaca Max Havelaar setelah lebih dari 100 tahun diterbitkan tetap menyisakan perih yang sama. Jejak-jejak kolonialisme itu masih nyata di zaman ini. Momen satu abad kebangkitan nasional pun seakan menjadi pengingat bahwa kita pernah terjajah!   
Buku ini akan selalu abadi untuk disimak ketika kita ingin melihat "siapa kita" berabad-abad lalu. Kemudian, sudahkah kita beranjak dari masa satu abad lalu? Atau kita masih terjajah tetapi tak merasa diri dijajah?
Sastra yang satir ini harusnya  bisa menjadi bahan refleksi paling bening kalau saja terjemahannya pun mendukung. Saya kecewa membaca jalinan kalimat yang rumit dan terlalu banyak kata yang dicetak miring. Untuk beberapa kata mungkin artinya penegasan, tetapi ketika terlalu banyak, saya tidak menemukan makna lebihnya.
Belajar dari kurang mulusnya terjemahan, semoga saja ada versi cetak ulang Max Havelaar. Mungkin kita memang perlu membeli hak cipta yang menjamin setiap buku diterjemahkan dengan tepat dan benar. Pembaca berhak untuk itu. Kebenaran yang harusnya bisa mencerahkan bisa jadi menggelapkan karena kesalahan penyampaian bahasa.

Sumber:
Naskah: Kompas, 21 Mei 2008 
Ilustrasi: pda-id.org
SEPUTAR PEMANASAN GLOBAL



 
- Judul Buku: Global Warming for Beginner
- Penulis: Dadang Rusbiantoro
- Penerbit: O2
- Cetakan: 2008
- Tebal: xii + 115 Halaman

Meningkatnya permintaan pasar dunia terhadap jagung dan kedelai ternyata tak hanya memicu kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok, seperti yang telah kita alami beberapa waktu terakhir. Ada dampak tersembunyi yang tidak kalah membahayakan bagi kita seiring dengan meningkatnya kebutuhan biji-bijian itu, yakni memperparah pengaruh pemanasan global.   
Sebagian hal tersebut diulas dalam buku berjudul Global Warming for Beginner, Pengantar Komprehensif tentang Pemanasan Global. Dalam buku ini, ditunjukkan bahwa pemanfaatan tanaman jagung dan kedelai sebagai biofuel alias energi alternatif pengganti bahan bakar minyak memerlukan lahan luas sehingga memicu deforestasi hutan.   
Penjelasan dengan gaya bahasa sederhana yang dilakukan penulis sejak awal menjadi kunci yang memudahkan kita untuk memahami proses global warming dan betapa seriusnya ancaman itu. Seiring dengan peningkatan suhu rata-rata bumi atau pemanasan global itu, malapetaka pun menghampiri kita. Iklim dan cuaca berubah, permukaan air laut meningkat, dan keseimbangan ekosistem akan terganggu akibat pemanasan global.   
Fenomena tersebut akhirnya juga merugikan manusia. Secara langsung, peningkatan suhu akan mengakibatkan wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis meluas. Perubahan iklim dan kekacauan ekosistem juga akan bermuara pada pembuktian teori kondang Robert Malthus, yaitu manusia bertambah mengikuti deret ukur dan makanan bertambah mengikuti deret hitung. Persediaan makanan akhirnya tak cukup karena jumlah manusia yang kian banyak dan tindakan manusia yang merusak alam.     
Pengetahuan bahwa aktivitas manusia kerap kali menimbulkan kerusakan alam juga terdapat dalam isi buku ini. Ada cerita ironi tentang salah satu "paru-paru dunia", yaitu kebakaran hutan di Indonesia dan kehadiran Protokol Kyoto sebagai cikal bakal kesepakatan antarnegara mengenai pengurangan emisi karbon.     
Buku ini menjadi semakin lengkap karena ditutup dengan informasi mengenai langkah-langkah yang bisa kita lakukan untuk menghambat pemanasan global. Beberapa saran itu di antaranya sudah mulai populer di masyarakat, seperti membiasakan diri bersepeda ke kantor (bike to work) atau mengurangi pemakaian AC.

Sumber:
Naskah= digilib-ampl.net
Buku= Kompas, 21 Mei 2008
APA YANG KITA MAKAN?


- Judul Buku: Dangerous Junk Food
- Penulis: Reni Wulan Sari dkk
- Penerbit: O2
- Cetakan: 2008
- Tebal: Viii + 163 Halaman

Jika secara harfiah junk food diartikan sebagai makanan sampah atau rongsokan, maka jika manusia menyantapnya, manusia itu sendiri adalah sampah atau bisa menjadi rongsokan. Ini adalah logika dari pepatah we are what we eat atau kita adalah apa yang kita makan.   
Namun begitu, makanan apa saja yang tergolong dalam junk food terkadang tak diketahui. Atau justru orang cenderung memasukkan segala jenis makanan cepat saji (fast food) macam kentang goreng (french fries), burger, ayam goreng tepung, atau piza ke dalam kategori junk food.
Padahal, kategori junk food itu sendiri bisa lebih luas dari makanan cepat saji yang dijual di waralaba asing. Prinsipnya, segala sesuatu yang berlebihan atau tidak diperlukan tubuh adalah sampah bagi tubuh.
Tak hanya itu, zat-zat lain yang berbahaya bagi tubuh, seperti kandungan gula yang tinggi pada minuman bersoda, zat pewarna makanan, sodium, bahan pengawet, hingga formalin yang terkandung dalam tahu dan mi basah, perlahan menggerogoti tubuh manusia.
Menurut data Profil Kesehatan Indonesia tahun 2005, penyebab utama kematian di rumah sakit adalah stroke. Dari dua jenis stroke iskemik dan hemorragik-yang terbesar diderita penduduk Indonesia adalah stroke iskemik, sebesar 83 persen dari sekitar 500.000 penduduk yang diperkirakan terkena stroke. Stroke jenis ini diakibatkan aliran darah ke otak terhenti karena asterosklerosis, yaitu penumpukan kolesterol pada pembuluh darah.   
Karena itu, diperlukan kejelian dalam memilah apa saja yang masuk ke dalam tubuh. Fakta lain yang dikemukakan dalam buku ini, antara lain ibu hamil yang mengonsumsi junk food berpotensi melahirkan anak yang rakus, hiperaktif, hingga terkena penyakit jantung bawaan.

(Kompas, 21 Mei 2008)

"BADAI PASTI BERLALU?"





- Judul Buku: Satu Dekade Pasca-Krisis Indonesia: Badai Pasti Berlalu?
- Penulis: Sri Adiningsih, A Ika Rahutani, Ratih Pratiwi Anwar, R
Awang Susatya Wijaya, Ekoningtyas Margu Wardani
- Penerbit: Kanisius
- Cetakan: 2008
- Tebal: xvii + 181 Halaman

Krisis ekonomi yang melanda Asia tahun 1997 tidak pernah terbayangkan akan terjadi pada saat itu. Betapa tidak, kawasan Asia Timur sangat terkenal dengan negara-negara Macan Asianya, seperti Korea Selatan, Hongkong, Singapura, Taiwan, Malaysia, dan Indonesia. Kawasan ini berkembang pesat. Saat itu sering dianggap sebagai "keajaiban dunia" sehingga menjadi contoh bagi negara-negara sedang berkembang dalam membangun perekonomian.
Kilas balik peristiwa lebih dari 10 tahun lalu itu mengawali perjalanan isi buku berjudul Satu Dekade Pasca-Krisis Indonesia, Badai Pasti Berlalu?. Peristiwa mulai jatuhnya Indonesia dalam krisis moneter 1997 dan perjalanan krisis ekonomi setelahnya termasuk upaya untuk keluar dari krisis menjadi inti buku ini.
Apa yang menarik dari buku ini? Buku ini cukup gamblang memaparkan perjalanan ekonomi Indonesia 1997-2007 sekaligus memaparkan tantangan ekonomi ke depan. Termasuk gugatan atas sistem ekonomi liberal yang dianut negara ini, meskipun gugatan itu ditulis sekilas. Buku yang ditulis para peneliti Pusat Studi Asia Pasifik Universitas Gadjah Mada ini memang khas bergaya peneliti disertai data cukup lengkap berbentuk tabel dan grafik. Buku ini memotret dimensi ekonomi makro dan mikro. Ia menyajikan potret sektor moneter, riil, dan fiskal, serta tidak lupa menampilkan potret kondisi sosial masyarakat, seperti kemiskinan dan pengangguran.
Awalnya, pertumbuhan ekonomi berbasis sistem ekonomi liberal memang menunjukkan sisi positifnya, pengangguran menurun dan kesejahteraan masyarakat meningkat. Namun, akibat sistem itu pulalah negara ini terjun bebas dalam krisis. Krisis ekonomi ini memberi pelajaran berharga. Semakin liberalnya perekonomian menyimpan potensi kerawanan. Perkembangan ekonomi yang pesat tanpa dukungan perkembangan faktor sosial, budaya, politik, dan pendukung lainnya yang selaras bisa menimbulkan potensi destabilitas ekonomi yang besar. Bahkan juga dapat mengguncang stabilitas sosial dan politik.
Pemulihan ekonomi berangsur-angsur dilakukan melalui tiga tahap, penyelamatan, pemulihan, dan pengembangan. Penahapan dilakukan dengan mengombinasikan dengan program IMF. September 1997, untuk mengatasi krisis ekonomi, dikeluarkan lima program utama, yaitu stabilisasi rupiah, konsolidasi fiskal, pengurangan defisit transaksi berjalan, penguatan perbankan, dan penguatan korporasi.
Setelah 10 tahun krisis berjalan, ekonomi Indonesia belum bisa bangkit, tumbuh, dan berkembang seperti yang diharapkan. Meski pada kuartal IV 2004 ekonomi pernah tumbuh 7 persen, secara umum Indonesia masih sulit menembus pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen saat ini. Motor penggerak ekonomi utama seperti investasi dan industri masih berjalan lamban. Perkembangan perekonomian satu dekade menunjukkan kualitas pembangunan ekonomi makin memburuk. Potensi terjadinya krisis ulangan masih tetap ada. "Jangan sampai kita terperosok dalam lubang yang sama". Itulah peringatan yang
disampaikan buku ini. Sejarah memang menjadi pelajaran berharga.

Sumber:
Naskah= Kompas, 23 Apr 2008
Ilustrasi= koskowbuku.wordpress.com